Abdussakir

Dzikir, Fikir, dan Amal Shaleh

PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PROBLEM POSING

Posted by abdussakir on February 13, 2009

A.       Belajar Matematika dengan Pemahaman

Menurut Hudojo (1990:5), dalam proses belajar matematika terjadi juga proses berpikir, sebab seseorang dikatakan berpikir bila orang itu melakukan kegiatan mental. Seseorang yang belajar matematika, mempersiapkan mentalnya dalam proses penerimaan pengetahuan baru yang disertai tindakan-tindakan konkret oleh orang itu melalui penyelesaian masalah matematika.

Sebelum tahun 1935, pembelajaran matematika (atau lebih tepatnya aritmetika) dilakukan dengan menggunakan pendekatan psikologi stimulus-respon (As’ari, 1998:2). Perhatian utama pendekatan stimulus-respon adalah kemampuan siswa menghafal dan menggunakan rumus atau algoritma secara efektif. Guru sudah cukup puas bila siswa sudah mampu mengoperasikan bilangan dan trampil menggunakannya untuk menyelesaikan masalah. Guru tidak memikirkan bahwa apakah siswa betul-betul memahami sesuatu yang dilakukan. As’ari (1998:3) juga mengemukakan bahwa guru tidak terlalu dipusingkan untuk membedakan dua istilah “know” dan “know how to”.

Situasi ini berakhir setelah seorang pakar matematika Brownell (1935) menyoroti pentingnya pemahaman dalam pengajaran aritmetika dan membedakan kedua istilah di atas. Orang mulai menyadari bahwa ada dua pengetahuan yang dapat dipelajari dalam matematika, yaitu pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural. Kedua pengetahuan itu mempunyai peran yang sama pentingnya dan keduanya perlu diajarkan di sekolah (Hiebert dan Lindquist dalam As’ari, 1998:3). Suydam dan Higgins (dalam As’ari,1998:3), menyatakan  bahwa sejak Brownell mengemukakan pendapatnya tersebut,  pentingnya pemahaman dalam pengajaran aritmetika semakin diakui keberadaannya.

Menurut Hiebert dan Carpenter (dalam Grouws, 1992:67), memahami dalam matematika adalah membuat hubungan antara ide-ide, fakta, atau prosedur yang semuanya merupakan bagian dari jaringan. Dengan demikian masalah yang sudah dipahami dapat diselesaikan dengan cara memahami hubungan antara ide-ide, fakta atau prosedur yang terdapat dalam jaringan.

Hiebert dan Carpenter (dalam Grouws, 1992:70) menyatakan bahwa pemahaman matematika memerlukan suatu proses untuk menempatkan secara tepat informasi atau pengetahuan yang sedang dipelajari ke dalam jaringan internal dari representasi pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya di dalam struktur kognitif siswa. Misalnya untuk menyelesaikan soal cerita yang memuat pengerjaan hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan penjumlahan, diperlukan pemahaman tentang konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian itu sendiri. Siswa yang hanya memahami sebagian dari hal-hal tersebut, tentu belum dapat menyelesaikan masalah itu.

Menurut Sutawidjaja (1997:177) memahami konsep saja tidak cukup, karena di dalam praktek kehidupan siswa memerlukan keterampilan matematika, sedangkan dengan memahiri keterampilannya saja siswa tidak mungkin memahami konsepnya. Oleh karena itu, guru harus menyampaikan konsep dengan benar dan kemudian melatihkan keterampilannya. Untuk pemahaman konsep, guru perlu memberikan latihan bervariasi, sedangkan untuk meningkatkan keterampilan, perlu dilakukan banyak latihan atau dapat juga melalui permainan agar lebih menarik. Bila pengetahuan matematika SD, baik yang konseptual maupun yang prosedural, tidak disajikan dengan cara yang sesuai, maka siswa akan mengalami kesulitan dalam memahami dan memahirinya.

Menurut Hiebert dan Carpenter (dalam As’ari, 1998:3-4) pengajaran yang menekankan kepada pemahaman mempunyai sedikitnya lima keuntungan berikut.

1.        Pemahaman memberikan generatif artinya bila seorang telah memahami suatu konsep, maka pengetahuan itu akan mengakibatkan pemahaman yang lain karena adanya jalinan antar pengetahuan yang dimiliki siswa, sehingga setiap pengetahuan baru melalui keterkaitan dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

2.        Pemahaman memacu ingatan artinya suatu pengetahuan  yang telah dipahami dengan baik akan diatur dan dihubungkan secara efektif dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain, melalui pengorganisasian skema atau pengetahuan secara lebih efisien di dalam struktur kognitif berfikir sehingga pengetahuan itu lebih mudah diingat.

3.        Pemahaman mengurangi banyaknya hal yang harus diingat artinya jalinan yang terbentuk antara pengetahuan yang satu dengan yang lain dalam struktur kognitif siswa yang mempelajarinya dengan penuh pemahaman merupakan jalinan yang sangat baik. Dengan memahami salah satu dari pengetahuan tersebut, maka segala pengetahuan yang terkait dapat diturunkan darinya, dengan demikian siswa tidak perlu mengahafalkan semuanya.

4.        Pemahaman meningkatkan transfer belajar artinya pemahaman suatu konsep matematika akan diperoleh siswa yang aktif menemukan keserupaan dari berbagai konsep tersebut. Hal ini akan membantu siswa untuk menganalisis apakah suatu konsep tertentu dapat diterapkan, untuk suatu kondisi tertentu.

5.        Pemahaman mempengaruhi keyakinan siswa artinya siswa yang memahami matematika dengan baik akan mempunyai keyakinan yang positif yang selanjutnya akan membantu perkembangan pengetahuan matematikanya.

Hiebert dan Carpenter (dalam Grouws,1992:69)  menyatakan bahwa pada dasarnya terbentuknya pemahaman ketika belajar berlangsung dalam proses yang digambarkan sebagai berikut.

1.        Menangkap ide yang dipelajari melalui pengalaman konkret.

2.        Menyatukan informasi dengan skema pengetahuan yang sudah dimiliki.

3.        Mengorganisasikan kembali pengetahuan yang sudah dimiliki, dengan membuat hubungan antara pengetahuan lama dan pengetahuan yang baru sehingga terbentuklah hubungan baru dengan hubungan lama yang dimodifikasikan.

 

B.       Pengertian Problem Posing

Problem posing merupakan istilah dalam bahasa Inggris, yang mempunyai beberapa padanan dalam bahasa Indonesia. Suryanto (1998:1) dan As’ari (2000:4) memadankan istilah problem posing dengan pembentukan soal. Sedangkan Sutiarso (1999:16) menggunakan istilah membuat soal, Siswono (1999:7) menggunakan istilah pengajuan soal, dan Suharta (2000:4) menggunakan istilah pengkonstruksian masalah.

Problem posing memiliki beberapa pengertian. Pertama, problem posing ialah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka memecahkan soal yang rumit. Kedua, problem posing ialah perumusan soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang telah diselesaikan dalam rangka mencari alternatif pemecahan lain (Silver & Cai, 1996:294). Ketiga, problem posing ialah perumusan soal dari informasi atau situasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika, atau setelah penyelesaian suatu soal (Silver & Cai, 1996:523).

Menurut Brown dan Walter (1993:15) informasi atau situasi problem posing dapat berupa gambar, benda manipulatif, permainan, teorema atau konsep, alat peraga, soal, atau selesaian dari suatu soal. Selanjutnya Suryanto (1998:3) menyatakan bahwa soal dapat dibentuk melalui soal-soal yang ada dalam buku. Stoyanova (1996) mengklasifikasikan informasi atau situasi problem posing menjadi situasi problem posing yang bebas, semiterstuktur, dan terstruktur. Pada situasi problem posing yang bebas, siswa tidak diberikan suatu informasi yang harus ia patuhi, tetapi siswa diberi kesempatan yang seluas-luasnya untuk membentuk soal sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Siswa dapat  menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan dalam pembentukan soal. Sedangkan dalam situasi problem posing yang semi terstruktur, siswa diberi situasi atau informasi yang terbuka. Kemudian siswa diminta untuk mencari atau menyelidiki situasi atau informasi tersebut dengan cara menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Selain itu, siswa harus mengaitkan informasi itu dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip matematika yang diketahuinya untuk membentuk soal. Pada situasi problem posing yang terstuktur, informasi atau situasinya berupa soal atau selesaian dari suatu soal (Yuhasriati, 2002:12).

Pada penelitian ini, problem posing yang digunakan adalah perumusan soal yang sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan agar menjadi lebih sederhana dan dapat dipahami dalam rangka menyelesaikan soal cerita operasi hitung campuran. Penelitian ini menggunakan informasi problem posing yang terstruktur, yaitu informasi berupa soal yang perlu diselesaikan oleh siswa. Berdasarkan soal cerita yang diberikan, siswa menyusun informasi dan kemudian membuat soal berdasarkan informasi yang telah disusun. Selanjutnya, soal-soal tersebut diselesaikan dalam rangka mencari selesaian sebenarnya dari pertanyaan soal cerita yang diberikan.

Respon siswa yang diharapkan dari situasi atau informasi problem posing adalah respon berupa soal buatan siswa. Namun demikian, tidak tertutup kemungkinan siswa membuat yang lain, misalnya siswa hanya membuat pernyataan.  Silver dan Cai (1996:526) mengklasifikasikan respon tersebut menurut jenisnya menjadi tiga kelompok, yaitu pertanyaan matematika, pertanyaan non matematika dan pernyataan.

Pertanyaan matematika adalah pertanyaan yang memuat masalah matematika dan mempunyai kaitan dengan informasi yang diberikan. Pertanyaan matematika ini, selanjutnya diklasifikasikan ke dalam dua kategori, yaitu pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan dan pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan. Pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan adalah pertanyaan yang memuat informasi yang cukup dari situasi yang ada untuk diselesaikan, atau jika pertanyaan tersebut memiliki tujuan yang tidak sesuai dengan informasi yang ada. Selanjutnya pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan juga dibedakan atas dua hal, yaitu pertanyaan yang memuat informasi baru dan pertanyaan yang tidak memuat informasi baru.

Pertanyaan non matematika adalah pertanyaan yang tidak memuat masalah matematika dan tidak mempunyai kaitan dengan informasi yang diberikan. Sedangkan pernyataan adalah kalimat yang bersifat ungkapan atau berita yang tidak memuat pertanyaan, tetapi sekedar ungkapan yang bernilai benar atau salah.

Respon yang dihasilkan siswa mungkin lebih dari satu pertanyaan matematika. Antara pertanyaan yang satu dengan pertanyaan lainnya dapat dilihat hubungan yang terjadi. Menurut Silver dan Cai (1996:302) ada dua jenis hubungan antara respon-respon tersebut, yaitu hubungan simetrik dan berantai. Respon yang mempunyai hubungan simetrik disebut respon simetrik yaitu serangkaian respon yang objek-objeknya mempunyai hubungan. Sedangkan respon yang mempunyai hubungan berantai disebut respon berantai. Pada respon berantai, untuk menyelesiakan respon berikutnya diperlukan penyelesaian respon sebelumnya. Sehubungan itu, Kilpatrik (dalam Siver & Cai, 1996:354) menyatakan bahwa salah satu dasar kosep koginitif yang terlibat dalam pengajuan soal adalah assosiasi, yaitu kecendrungan siswa menggunakan respon pertama sebagai pijakan untuk mengajukan soal kedua, ketiga, dan seterusnya.

Berdasarkan tingkat kesukarannya, Silver dan Cai (1996:526), mengklasifikasikan respon siswa menjadi dua dua kelompok, yaitu: (1) tingkat kesukaran respon terkait dengan stuktur bahasa (sintaksis), dan (2) tingkat kesukaran respon terkait dengan stuktur matematika (semantik). Tingkat kesukaran respon yang berkaitan dengan sintaksis dapat dilihat dari proposisi yang dikandungnya. Proposisi yang digunakan dibedakan menjadi tiga, yaitu proposisi penugasan, proposisi hubungan, dan proposisi pengandaian. Proposisi penugasan adalah pertanyaan (soal) yang memuat tugas untuk dikerjakan. Proposisi hubungan adalah pertanyaan yang memuat tugas untuk membandingkan. Sedangkan proposisi pengandaian adalah pertanyaan yang menggunakan informasi tambahan.

Tingkat kesukaran respon berkaitan dengan stuktur semantik, dapat diketahui dari hubungan semantiknya. Menurut Marshall (dalam Silver & Cai, 1996:528) hubungan semantik respon siswa dapat dikelompokkan menjadi lima kategori, yaitu mengubah, mengelompokkan, membandingkan, menyatakan kembali, dan memvariasikan.

 

C.     Problem Posing dalam Pembelajaran Matematika

Problem posing adalah pembelajaran yang menekankan pada pengajuan soal oleh siswa. Oleh karena itu, problem posing dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengembangkan berpikir matematis atau pola pikir matematis. Menurut Suryanto (1998:3) merumuskan soal merupakan salah satu dari tujuh kriteria berpikir atau pola berpikir matematis.

Dewasa ini, problem posing merupakan kegiatan penting dalam pembelajaran matematika. NCTM merekomendasikan agar dalam pembelajaran matematika, para siswa diberikan kesempatan untuk mengajukan soal sendiri (dalam Siver dan Cai, 1996:521). Silver dan Cai (1996:293) juga menyarankan agar pembelajaran matematika lebih ditekankan pada kegiatan problem posing. Menurut Cars (dalam Suryanto, 1998:9) untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan dapat dilakukan dengan cara membiasakan siswa mengajukan soal. Sejalan dengan itu, Suparno (1997:83) menyatakan bahwa mengungkapkan pertanyaan merupakan salah satu kegiatan yang dapat menantang siswa untuk lebih berpikir dan membangun pengetahuan mereka.

Menurut Killpatrich (dalam Silver dan Cai, 1996:530) salah satu dasar kognitif yang ada dalam problem posing adalah asosiasi. Selanjutnya, menurut As’ari (2000:9) dalam kegiatan problem posing, ketika terjadi proses asosiasi antara informasi baru dengan struktur kognitif yang dimiliki seseorang, maka proses selanjutnya yang terjadi adalah proses asimilasi dan akomodasi.

Di samping itu, Brown dan Walter (1996:15) yang menyatakan pembuatan soal dalam pembelajaran matematika melalui dua tahap kegiatan kognitif, yaitu accepting (menerima) dan challenging (menantang). Menerima terjadi ketika siswa membaca situasi atau informasi yang diberika guru dan menantang terjadi ketika siswa berusaha untuk mengajukan soal berdasarkan situasi atau informasi yang diberikan. Sehubungan dengan hal tersebut, As’ari (2000:9) menegaskan bahwa proses kognitif menerima memungkinkan siswa untuk menempatkan suatu informasi pada suatu jaringan struktur kognitif sehingga struktur kognitif tersebut makin kaya, sementara proses kognitif menantang memungkinkan jaringan stuktur kognitif yang ada menjadi semakin kuat hubungannya. Dengan demikian pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing akan menambah kemampuan dan penguatan konsep dan prinsip matematika siswa.
D. Referensi

As’ari, A.R. 1998. Penggunaan Alat Peraga Manipulatif dalam Penanaman Konsep Matematika. Jurnal Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan Pengajaran. 27(I):1-13

As’ari, A.R. 2000, Problem Posing untuk Peningkatan Profesionalisme Guru Matematika. Jurnal Matematika. Tahun V, Nomor 1, April 2000.

Brown, S. & Walter, R.. 1990. The Art of Problem Posing. London: Lawrence Erlbaum Associates Publishers

Brown, S. & Walter, R.. (Ed). 1993. Problem Posing : Reflections and Aplications. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers.

Hiebert, J. & Carpenter, T.. 1992. Learning and Teaching with Understanding. Dalam D Grouws (ed). Handbook of Research on Mathematics Teaching and Learning (hlm.65-419). New York: Macmillan Publishing Company.

Hudojo, H.. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. IKIP Malang

Silver, E.A. & Cai, S.. 1996. An Analysis of Arithmetic Problem Posing by Middle School Students, Journal for Research in Mathematics Education. 27: 521-539

Siswono, Y.T.E., 2000. Pengajuan Soal (Problem Posing) dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah (Implementasi dari Hasil Penelitian). Makalah disajikan pada Seminar Nasional Pengajaran Matematika Sekolah Menengah, 25 Maret 2000. Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang.

Stoyanova, E. 1996. Developing a Framework for Research into Students’ Problem posing in School Mathematics, (Online), crsma@cc newcastel.edu.au, diakses 11 Juni 2001

Suharta, I.G.P. 2000. Pengkonstruksian Masalah oleh Siswa (Suatu Strategi Pembelajaran Matematika). Makalah disajikan pada Seminar Nasional Pengajaran Matematika di Sekolah Menengah yang dilaksanakan oleh Jurusan Matematika FMIPA UM. Malang, 25 Maret 2000.

Suparno, P. 1997. Filsafat Kontruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Suryanto, 1998. Problem Posing dalam Pembelajaran Matematika. Makalah disajikan pada Seminar Nasional: Upaya-upaya Meningkatkan Peran Pendidikan dalam Menghadapi Era Globalisasi. Program Pascasarjana IKIP Malang, 4 April 1998.

Sutawidjaja, A. 1997. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Jurnal Matematika, Ilmu Pengetahuan, dan Pengajarannya. Volume 26(2):175-187.

Sutiarso, S. 1999. Pengaruh Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Posing Terhadap Hasil Belajar Aritmatika Siswa SMPN 18 Malang. Tesis tidak diterbitkan. Program Pascasarjana UM.

Yuhasriati, 2002. Pembelajaran Persamaan Garis Lurus yang Memuat Problem Posing di SLTP Laboratorium Universitas Negeri Malang. Tesis tidak diterbitkan. Program Pascasarjana UM.

About these ads

28 Responses to “PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN PROBLEM POSING”

  1. tri pendra said

    as…
    ada sebuah kelemahan jika problem posing di terapkan secara komperehensif yaitu siswa yang belum mampu berpikir secara mandiri, akan tetapi mereka harus di stimuluskan terlebih dahulu.
    memang sih bagus cara ini di terapkan karena siswa di ransang untuk aktif terus, sehingga nanti bisa menyukseskan proses pembelajaran.

    oh ya pak…
    menurut bapak bagus ngak ini di terapkan di jurusan matematika yang notabennya kemampuan mereka berbeda-beda?

    terima ksih tanggapannya….

    pak jika mau iseng-iseng kunjungi blog pribadi ku di http://www.pendramatematika2007.blogspot.com he…he

  2. abdussakir said

    Semua metode mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Metode kadang cocok untuk materi A tapi tidak cocok materi B. Kadang cocok untuk siswa X tapi tidak cocok untuk siswa Y. Maka, perlu kajian lebih banyak dan dalam. Mungkin saja dapat dicoba di jurusan matematika, tapi perlu memilih materi apa yang cocok, karakter siswa yang bagaimana, dan terutama bagaimana mengemasnya. Ok, thank you atas komentarnya.

  3. [...] Blog Abdussakir [...]

  4. ratono said

    PROBLEM POSING TENTUNYA MENUNTUT SISW ABERFIKIR TINGKAT TINGGI YA PAK. BAGAIMANA PAK KALO BAGAIMANA CARA PENERAPANNYA DI SD, SAYA GURU SD DI BREBES.TRIMAKASIH PAK.TOLONG BALAS YA.

    • abdussakir said

      Penerapan Problem Posing tidaklah sulit. Mulailah dengan yang sederhana. Problem posing secara sederhana dapat dimaknai dengan SISWA MENGAJUKAN PERTANYAAN-PERTANYAAN BERKAITAN DENGAN MASALAH ATAU “SOAL” YANG SEDANG DIHADAPI. Untuk soal cerita misalnya, siswa dapat bertanya APA YANG DIKETAHUI dan APA YANG DITANYAKAN.

      Misalkan ada soal cerita sebagai berikut.
      “Ahmad mempunyai uang Rp135.000,00 kemudian ia diberi uang oleh ibunya sebesar Rp190.000,00. Ketika pergi ke toko, Ahmad membeli mainan yang harganya Rp.170.000,00. Berapakah uang Ahmad sekarang?”.

      Guru meminta siswa untuk membaca soal secara saksama.
      Selanjutnya, guru meminta siswa membuat pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal berdasarkan soal cerita tersebut. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat tersebut tentunya bersifat matematika dan mengarah kepada pertanyaan akhir soal cerita. Misalnya
      (1) Berapa rupiah uang Ahmad mula-mula? (2) Berapa rupiah uang ibu yang diberikan kepada Ahmad? (3) Berapa rupiah uang Ahmad setelah menerima pemberian ibu? (4) Berapa rupiah uang Ahmad yang dipakai membeli mainan? (5) Berapa sisa uang Ahmad setelah membeli mainan? (6) Berapa uang Ahmad sekarang?
      Berdasarkan bimbingan guru, siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal tersebut sebagai berikut.
      (1) Uang Ahmad mula-mula adalah Rp135.000,00. (2) Uang ibu yang diberikan kepada Ahmad adalah Rp190.000,00. (3) Uang Ahmad setelah menerima pemberian ibu adalah Rp135.000,00 + Rp190.000,00 = Rp325.000,00. (4) Uang Ahmad yang dipakai membeli mainan adalah Rp170.000,00. (5) Sisa uang Ahmad setelah membeli mainan adalah Rp325.000,00 –Rp170.000,00 = Rp155.000,00. (6) Uang Ahmad sekarang adalah Rp155.000,00.
      Selamat Mencoba.

  5. nia said

    saya ingin menambahkan..mohon daftar pustakanya di lampirkan juga…terima kasih…

  6. Kaito said

    Assalamu’alaikum…Pak, boleh lihat daftar pustakanya,,,thank’s.

  7. [...] ( 2009). Pembelajaran Matematika Dengan Problem Posing. [Online]. Tersedia : http://abdussakir.wordpress.com/2009/02/13/pembelajaran-matematika-dengan-problem-posing/. (21 February [...]

  8. As. Saya tertarik dengan pendekatan problem posing ini pak. Boleh ditambahkan buku rujukan problem posing berbahasa Indonesia berbentuk pdf. Dimana bisa diperoleh buku The art of problem posing itu ya pak?

    • abdussakir said

      Menurut saya, browsing di internet dengan kata kunci “problem posing+pdf” itu akan sangat membantu. yang ada di saya hanya 1 buku.

  9. novrida said

    maaf,, buku “learning and teaching with understanding” hiebert carpenter bisa Anda dapatkan dimana? Mohon informasinya,,

    • abdussakir said

      Hiebert, J. & Carpenter, T.. 1992. Learning and Teaching with Understanding. Dalam D Grouws (ed). Handbook of Research on Mathematics Teaching and Learning (hlm.65-419). New York: Macmillan Publishing Company.

      Jadi bukunya adalah “Handbook of Research on Mathematics Teaching and Learning” karangan D Grouws. Ada di perpustakaan PPS UM Malang.

  10. tuti aditama said

    pak materi apa yang tepat digunakan untuk materi problem posing pada SMP

  11. novrida said

    pak, semua referensi di atas terutama mengenai pemahaman dalam pembelajaran matematika Anda dapatkan dimana? Mohon informasinya..

    • abdussakir said

      Tulisan ini sebenarnya sudah lama, sekitar tahun 2002-an, semasa saya masih mahasiswa S2. Waktu itu masih suka ke perpustakaan umum UM dan perpustakaan PPS UM. Jadi, di sanalah referensi itu ada.

  12. dianparamita said

    maaf pak saya mau tanya ,apakah problem posing ini hanya cocok diterapkan di kelas yg tingkat kognitifnya tinggi ???karena mungkin biasanya hanya siswa yg pintar yg bisa mengajukan soal …mohon jawabannya

    • abdussakir said

      tidak juga, bisa di kelas dan tingkat kognitif apapun. kan hanya sekedar mengajukan pertanyaan, sesuai informasi yang diberikan.
      guru nantinya yang menyeleksi, mana yang matematik dan mana yang bukan (kalau mata pelajaran matematika).

      • dianparamita said

        kalau pernah ada yg meneliti bahwa problem posing hanya bisa berjalan di kelas yg kognitifnya rendah dan kemudian saya mengacu pada penelitian itu boleh apa ga pak ?

      • dianparamita said

        eh maksud saya kalau pernah ada yg meneliti bahwa problem posing hanya bisa berjalan di kelas yg kognitifnya tinggi dan kemudian saya mengacu pada penelitian itu boleh apa ga pak

      • abdussakir said

        kalau memang penelitian, boleh dirujuk. hanya saja, perlu dilihat juga penjelasannya mengapa bisa begitu.

  13. dianparamita said

    kalo merujuk pada penelitian orang dibagian latar belakang dituliskan apa tidak pak?

    • abdussakir said

      disesuaikan, pada bagian mana bahan yang dirujuk ditempatkan. kalau memang perlu ditaruh di bab 1 bagian latar belakang, tidak apa-apa. memperkuat alasan bahwa mengapa penelitian dilakukan di kelas dengan kemampuan tinggi. atau di bab 3 bagian pemilihan subjek. bergantung kebutuhan.

      • dianparamita said

        owh,,,trimakasih pak..berarrti PTK ga harus dilakukan di kelas yg rendah ya pak ?boleh dikelas dengan tingkat kognitif apapun asalkan jelas alasannya gtu pak?

      • abdussakir said

        boleh saja. hanya saja, untuk menjadi koreksi pada penelitian sebelumnya, laksanakan saja di kelas menengah atau rendah. kalau nanti berhasil, maka penelitian yang sebelumnya tidak selamanya benar, tapi jika ternyata di kelas rendah gagal, maka memperkuat hasil penelitian sebelumnya bahwa problem posing cocoknya di kelas tinggi.

      • dianparamita said

        menurut bapak ada tidak sumber buku yang mengatakan bahwa problem posing cocoknya di kelas tinggi?

  14. rahmad said

    pak,,ada no yang bisa dihubungi????ini no sy,,085640906839,,,saya mau share tentang problem posing,,,(rahmad, UNS solo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: