Abdussakir

Dzikir, Fikir, dan Amal Shaleh

Yang Rasional dan Yang Irrasional

Posted by abdussakir on December 13, 2008

Siapa yang dalam hidup di dunia ini tidak ingin sukses? Siapa yang tidak ingin kaya, ingin pintar, ingin ini, ingin itu, ingin yang serba enak pokoknya. Dalam dunia pendidikan, siapa yang tidak ingin lulus dengan nilai yang bagus. Siswa mana yang tidak ingin pintar dan cerdas dengan salah satu bukti skor ujiannya tinggi. Guru mana yang tidak ingin sukses dengan bukti mampu mencetak siswa/lulusan yang unggul dengan salah satu bukti skor ujiannya tinggi. Apakah tidak memprihatinkan kalau melihat siswa-siswa sekarang habis masa bermainnya hanya karena belajar, les ini, dan les itu, bimbingan ini dan bimbingan itu. Pagi, siang, sore, dan malam kalau bisa semua untuk belajar. Apa tidak memprihatinkan sampai-sampai guru berbuat curang “membantu” siswa agar dapat lulus Ujian Nasional.  

Saya pikir, manusis sekarang sudah parah terjangkiti penyakit rasio, sehingga terlalu rasional. Semua diukur dan dipikir secara rasio. Mau kenyang harus makan, mau kaya harus bekerja keras, mau pintar harus giat belajar, mau sembuh harus berobat. Apa betul begitu? Apakah harus rasional begitu? Apakah tidak paham bahwa dunia rasional itu hanya satu bagian dari sisi kehidupan? Ada sisi lain, yang kewujudannya jelas yaitu sisi irrasional.

Sejak beberapa tahun terakhir ini, sebenarnya sudah banyak nampak kekalutan manusia yang sok rasional, sehingga mereka mencoba melihat dan masuk ke sisi yang irrasional. Bukankah sudah kita lihat bersama, bagaimana sekolah-sekolah baik yang berlabel umum maupun yang berlabel Islam, ramai-ramai melakukan ritual istighosah hanya untuk kelulusan Ujian Nasional. Apakah ini bukan bukti, bahwa rasionalisme mereka tidak dapat diandalkan 100%? Saya sering membaca cerita tentang prilaku belajar pemenang Olympiade Fisika asuhan Johanes Surya. Apakah tidak mencengangkan bila mereka menyatakan lebih banyak bermain game di komputer daripada belajar, dan melakukan ritual sholat malam (bagi yang Muslim). Silahkan lihat di koran tentang pemenang TOFI.

Pintar itu bisa secara rasional, yaitu melalui kasab atau usaha. Belajar giat. Tapi jangan lupa, pintar juga bisa secara irrasional, yaitu melalui kasyaf atau penyucian jiwa (tazkiyah). Dalam Al-Qur’an, urutannya adalah tilawah, tazkiyah, ta’lim dan hikmah. Tazkiyah dulu, baru menjadi pintar. Istighosah itu bukan hanya saat akan Ujian Nasional, tapi dimulai jauh sebelum itu dan berkelanjutan.

3 Responses to “Yang Rasional dan Yang Irrasional”

  1. Pen Chaniago said

    as…
    pak boleh tanya…???
    benarkah menurut logika seorang bisa menalar hal2 yang bersifat irrasional…padahal itu bersifat abstrak, tidak tampak,kmmpuan rasio manusia sangat terbatas…bagaimana ini pak???satu lagi,,,,
    ada hal yang sangat urgen sekali pak???percaya ataupun ngak percaya ada manusia yang bisa berkomunikasi dengan batin jarak jauh???
    aku mnta tolong yo pak di jelasin….terima kasih

    • abdussakir said

      Manusia itu dilengkapi dengan indera dhahir, misalnya pendengaran (sam’a) dan penglihatan (abshar). Indera dhahir ini lebih banyak dikontrol oleh otak, yang bekerja secara logis dan rasional. Indera dhahir mampu menangkap realita tetapi kurang mampu menangkap hakikat di balik realita. Meskipun dalam kondisi tertentu, indera dhahir dapat melihat penampakan.
      Ada indera yang kemampuannya jauh lebih hebat dari rasio itu, yaitu indera bathin (qalb/if’idah). Indera bathin ini yang jarang digunakan oleh manusia. Padahal, dengan indera batin ini manusia dapat melakukan jauh lebih hebat dari kemampuan teknologi termutakhir di jaman ini atau jaman yang akan datang. Manusia dapat berkomunikasi dengan manusia lain di belahan bumi lain tanpa HP. Manusia dapat bepergian ke tempat yang jauh tanpa perlu pesawat dan dalam waktu yang cepat. Manusia mampu melakukan pekerjaan selama 1 tahun, tetapi secara dhahir itu dilakukan dalam 3 hari. Saya percaya hal-hal itu, karena saya sudah menikmatinya. Kalau mau seperti itu, asahlah kemampuan bathin, lakukan tazkiyatun nafs. Mau ….

  2. hardiman said

    aslm.
    Saya belum begitu paham dengan kata-kata bapak seperti yang dibawah ini.

    “Saya pikir, manusis sekarang sudah parah terjangkiti penyakit rasio, sehingga terlalu rasional. Semua diukur dan dipikir secara rasio. Mau kenyang harus makan, mau kaya harus bekerja keras, mau pintar harus giat belajar, mau sembuh harus berobat. Apa betul begitu? Apakah harus rasional begitu? Apakah tidak paham bahwa dunia rasional itu hanya satu bagian dari sisi kehidupan? Ada sisi lain, yang kewujudannya jelas yaitu sisi irrasional.”

    itu apa maksudnya Pak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: