Abdussakir

Dzikir, Fikir, dan Amal Shaleh

Muhadharah Dhuhur 28/6/2007

Posted by abdussakir on December 31, 2008

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Alhamdulillah. Ash sholatu was salamu ala rasulillah.

Hadirin jemaah shalat dhuhur yang saya hormati.

Saya lahir hari Senin tanggal 10 Oktober 1975. Bapak memberi nama saya dalam bahasa Arab “ABDUSYSYAKIR”, sudah dihitung ‘ABAJADUN’-nya dan sudah bagus hasilnya. Begitu masuk SD, kepala sekolah bingung untuk menulis nama saya secara latin. Jadilah ABDUSSAKIR, tanpa “Y”. Sempat bingung juga, apakah digabung ABDUSSAKIR atau dipisah ABDUS SAKIR. Penulisan nama saya secara latin berdampak pada perubahan makna sebenarnya.

ABDUSYSYAKIR : Hamba Dzat Yang Bersyukur. (Sesuai harapan bapak Saya)

ABDUSSAKIR : Hamba Pemabuk.

Tidak ada yang mempermasalahkan penulisan nama tersebut, sampai akhirnya pada (kira-kira) tanggal 27 Oktober 2005, saat saya menjadi pemateri Khotmil Qur’an, Rektor UIN Malang atas usul kyai Ma’had Sunan Ampel Al-Aly, meluruskan kesalahan ini. Bahwa yang benar adalah ABDUSYSYAKIR.

Tapi, pada jaman sekarang ini, benar kadang-kadang tidak selamanya menguntungkan. Kadang nama ABDUSSAKIR “menguntungkan” juga. Pernah suatu ketika saya berbicara panjang lebar dalam suatu forum, dan banyak yang saya “kritik” dan banyak yang tersinggung. Pada saat itu, ada seorang bijak yang mengatakan “Wong yang berbicara sakir (orang mabuk), kok direken. Orang mabuk itu boleh ngomong apa saja, yang salah yang menyuruh ngomong dan mendengarkan omongannya”.

Nah pada kesempatan ini, jika yang sama sampaikan salah, harap dimaklumi, berarti yang berbicara SAKIR (mabuk). Jika benar, mungkin itulah ABDUSYSYAKIR.

Hadirin jemaah shalat dhuhur yang saya hormati.

Mandat yang diberikan pemerintah dengan perubahan STAIN MALANG menjadi UIN MALANG adalah integrasi sains dan agama. Menghapus adanya dikotomi ilmu umum dan ilmu agama. Menghapus istilah abangan dan putihan. Bukankan abangan dan putihan jika digabung akan menjadi Indonesia? Kalau abang saja, atau putih saja, apa dapat disebut Indonesia?.

Saya sangat mendukung ide pembentukan ulama yang intelek professional atau intelek professional yang ulama. Atau ilmuwan yang ‘alim dan ‘alim yang ilmuwan.  Sudah banyak usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Tetapi menurut saya, masih ada dua hal yang perlu mendapat perhatian.

1.        Kita sudah memiliki LKQS, tetapi kalau saya amati, unit ini kurang berfungsi maksimal. Bagaimana akan mengkaji Al-Qur’an dan Sains kalau yang duduk di LKQS hanya dari golongan kyai/agmawan saja?  Maksud saya, kurang lengkap. Harusnya yang masuk di jajaran LKQS juga dari golongan saintis/ilmuwan. Jika sudah lengkap, ada kyainya, ada saintisnya, maka buku SERI SAINS DAN AGAMA yang akan datang justru lahir dari LKQS. Kalau demikian, maka buku-buku yang terbit tiap tahun ini, sudah melalui diskusi dan revisi bersama di LKQS. Jadi, kebesaran dan kemegahan gedung LKQS ini akan sebanding dengan kebesaran dan kemegahan ide-ide serta karya-karya yang dihasilkan.

2.        Yang kedua, saya selalu berpikir. Alangkah indahnya dan alangkah sempurnanya jika Ma’had Sunan Ampel Al-Aly kita ini, ke depan dilengkapi dengan ulama-ulama ilmuwan, kyai-kyai saintis bahkan ibu nyai-ibu nyai saintis.

Ma’had kita, perlu diisi dengan kyai yang “almuhafadhah ‘ala qadimish shalih” yang doanya mampu menembus langit yang tujuh, tapi juga sudah saatnya diisi juga dengan kyai yang selain “almuhafadhah ‘ala qadimish shalih” juga berani  wal akhdzu bil jadidil ashlah”.

Jadi, alangkah indahnya jika kemudian di Ma’had ini ada kyai ekonomi, kyai psikologi, kyai biologi, kyai fisika, kyai kimia, dan ustadz matematika. Saya tidak mau menyebut kyai matematika, karena takut dikira saya ingin jadi kyai. Ustadz saja cukup.

Dengan demikian, maka di ma’had tidak hanya akan berisi dengan kajian-kajian keagamaan semata. Akan ada halaqah-halaqah yang mengkaji biologi dengan al-qur’an dan hadits,  fisika dengan al-qur’an dan hadits, dan kimia dengan al-qur’an dan hadits. Pengajian-pengajian atau diskusi-diskusi pada akhirnya akan membantu kyai-kyai saintis untuk menyusun buku sains dan agama.

Saya sudah pernah dan banyak berdiskusi dengan mahasantri-mahasantri ma’had. Saya peroleh informasi bahwa mahasantri butuh sesuatu yang baru, pemikiran-pemikiran baru. Mahasantri kita ini banyak yang berasal dari pondok-pondok, dan mereka sudah kenyang dengan kitab kuning dan kajian keagamaan. Untuk memberikan nuansa baru, mendialogkan agama dan ilmu pengetahuan, maka sangat perlu adanya halaqah-halaqah yang dibimbing oleh kyai-kyai saintis.

 

Itulah pimikiran yang sebenarnya sudah lama mengendap di otak saya. Masih banyak lagi yang belum saya utarakan. Saya kadang ragu dan takut untuk berbicara. Siapa yang akan mendengar? Mungkin pemikiran-pemikiran saya akan didengar dan dipercaya jika saya sudah menjadi Profesor Doktor. Dan setelah itu akan dilaksanakan jika saya sudah menjadi Rektor.

Saya akhiri muhadharah pada kesempatan yang singkat ini. Sekali lagi, jika salah maka anggaplah yang berbicara adalah SAKIR (orang mabuk). Kurang lebihnya, saya minta maaf.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: