Abdussakir

Dzikir, Fikir, dan Amal Shaleh

Pendidikan

Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)

A.   Pengertian Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan  suatu konsep belajar yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan situasi dunia nyata. Dengan model pembelajaran ini diharapkan dapat mendorong  siswa untuk belajar. Hal ini karena siswa dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dan penerapannya dalam kehidupan siswa sebagai anggota keluarga, sebagai warga masyarakat, dan nantinya sebagai tenaga kerja (Suyanto, 2002).

Menurut Nurhadi (2003) pendekatan kontekstual merupakan pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik yang dimilikinya dalam berbagai macam tatanan kehidupan , baik di sekolah maupun di luar sekolah. Disamping itu siswa dilatih untuk dapat memecahkan masalah yang mereka hadapi di dalam kehidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian diharapkan siswa akan terlatih untuk dapat menghubungkan apa yang diperoleh di kelas dengan kehidupan dunia nyata yang ada di lingkungannya.

Menurut Nurhadi (2002) landasan berpikir (filosofi) pengembangan CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Hal ini dilandasi bahwa pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari paham progresivisme yang digagas oleh John Dewey pada tahun 1916 (Nurhadi, 2003).

Menurut Siswono (2002) pembelajaran kontekstual sebagai terjemahan dari Contextual Teaching and Learning (CTL) memiliki dua peranan dalam pendidikan yaitu sebagai filosofi pendidikan dan sebagai rangkaiam kesatuan dari strategi pendidikan. Sebagai filosofi pendidikan, CTL mengasumsikan bahwa peranan pendidik adalah membantu siswa menemukan makna dalam pendidikan dengan cara membuat hubungan antara apa yang mereka pelajari di sekolah dan cara-cara menerapkan pengetahuan tersebut di dunia nyata. Hal ini di maksudkan untuk membantu siswa memahami mengapa yang mereka pelajari itu penting. Sedangkan sebagai strategi, strategi pengajaran dengan CTL memadukan teknik-teknik yang membantu siswa menjadi lebih aktif sebagai pembelajar dan reflektif terhadap pengalamannya. Sejalan dengan itu, lebih jauh Parnell (dalam Siswono, 2002) menyatakan bahwa dalam pengajaran kontekstual, tugas utama guru adalah memperluas persepsi siswa sehingga makna atau pengertian itu menjadi mudah ditangkap dan tujuan pembelajaran segera mudah dimengerti.

Selanjutnya Nurhadi (2003) mendefinisikan  pembelajaran konteksual (Contextual Teaching and Learning ) sebagai konsep belajar dimana guru menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya  dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapt disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual adalah sebuah pembelajaran yang membantu guru mengaitkan isi materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari sehingga membantu siswa untuk dapat lebih mengetahui makna dalam materi yang dipelajari dengan cara menghubungkannya dengan situasi dunia nyata. Melalui pendekatan kontekstual, siswa termotivasi dalam belajar, sebab pelajaran yang diterima akan lebih mudah dipahami dan lebih bermakna serta siswa mengerti manfaat atau tujuan dari pembelajaran tersebut.

 

B.  Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

Pembelajaran kontekstual memiliki enam karakteristik sebagaimana yang dikemukakan Rustana (2002) yaitu (1) pembelajaran bermakna; pembelajaran dirasakan terkait dengan kehidupan nyata atau siswa mengerti manfaat isi pembelajaran, (2) penerapan pengetahuan;  siswa untuk memahami apa yang dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sekarang atau masa depan, (3) berpikir tingkat tinggi; siswa  berpikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, pemahaman suatu isu, dan pemecahan masalah, (4) kurikulum yang dikembangkan berdasarkan standar; isi  pembelajaran dikaitkan dengan standar lokal, nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, (5) responsif terhadap budaya; guru memahami dan menghargai nilai, kepercayaan, dan kebiasaan siswa, serta tatanan sekolah dan tatanan komunitas kelas, dan (6) penilaian autentik; penggunaan  berbagai strategi penilaian akan merefleksikan hasil belajar.

Sedangkan Nurhadi (2002) menyatakan bahwa karakteristik pembelajaran berbasis CTL adalah; (a) kerja sama, (2) saling menunjang, (3) menyenangkan , tidak membosankan, (4) belajar dengan bergairah, (5) belajar dengan bergairah, (6) pembelajaran terintegrasi, (7) siswa aktif, (8) sharing dengan temannya, (9) siswa kritis dan guru kreatif, (10) dinding kelas penuh dengan hasil kerja  siswa, dan (11) laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, dan karangan siswa.  

Dari kedua pendapat di atas, maka ciri-ciri pembelajaran kontekstual adalah menekankan pada pemahaman konsep dan pemecahan masalah, siswa mengalami proses pembelajaran secara bermakna dan memahami matematika dan penalaran, siswa secara aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan awal, banyak ditekankan pada penyelesaian masalah yang tidak rutin, dan  menempatkan penilaian autentik sebagai salah satu unsur pokok (Siswono,2002).

 

C.  Komponen Utama pendekatan Kontektstual

Menurut Nurhadi (2003) pembelajaran dengan pendekatan kontekstual memiliki tujuh komponen utama yang mendasari penerapannya di dalam kelas. Suatu kelas dikatakan menggunakan pendekatan kontekstual jika menerapkan ketujuh komponen dalam pembelajaran. Ketujuh komponen tersebut dapat dijelaskan  sebagai berikut.

  1. Konstruktivisme (constructivism)

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yang menekankan pada pembelajaran harus dikemas menjadi proses ‘mengkonstruk’ bukan ‘menerima’ pengetahuan. Siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif, kreatif, dan produktif dari pengetahuan terdahulu dan dari pengetahuan belajar bermakna.

  1. Penemuan (inquiry)

Menemukakan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Menurut Nur (2001) dalam suatu inqury siswa mulai dengan suatu pertanyaan, merancang suatu penyelidikan, mengumpulkan bukti, merumuskan suatu jawaban terhadap pertanyaan semula, dan mengkomunikasikan proses dan hasil-hasil penyelidikan tersebut.

  1. Bertanya (questioning)

Bertanya dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong siswa mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk mengetahui informasi, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Selanjutnya Nurhadi (2003) menyatakan dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk: (a) menggali informasi, (b) mengecek pemahaman siswa, (c) membangkitkan respon kepada siswa, (d) mengetahui sejauh mana keinginan siswa, (e) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, (f) memfokuskan perhatian siswa pada suatu yang dikehendaki guru, dan (h) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

  1. Masyarakat belajar (learning community)

Masyarakat belajar merupakan kegiatan pembelajaran yang difokuskan pada kegiatan berbicara dan berbagi pengalaman kepada orang lain. Masyarakat belajar dapat terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, dan antara yang sudah tahu ke yang belum tahu.

  1. Pemodelan (modeling)

Pemodelan merupakan kegiatan pemberian model dengan tujuan untuk membahasakan gagasan yang dipikirkan, dan mendemonstrasikan bagaimana menginginkan para siswa untuk belajar. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan Susilo (2001) bahwa pemodelan merupakan suatu proses pemberian contoh mengetahui bagaimana mengharapkan orang lain menjadi dirinya sendiri (to be), berfikir (to think), bertindak (to act), dan belajar (to learn)

  1. Refleksi (reflection)

Refleksi merupakan kegiatan memikirkan apa yang telah terjadi, menelaah dan merespon semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, dan memberi masukan-masukan perbaikan jika diperlukan. Hal ini sesuai dengan pendapat Susilo (2001) bahwa refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Melalui refleksi siswa dapat me-review peristiwa, kegiatan, pengalaman, memikirkan apa yang dipelajari, bagaimana perasaannya, dan bagaimana memanfaatkan pengetahuan yang baru dipelajari.

  1. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)

Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan siswa perlu diketahui oleh guru agar dapat memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan selalu dari hasil (Nurhadi 2002). Adapun karakteristik authentic assessment yang dikemukan Nurhadi (2003) yaitu: (a) dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, (b) dapat digunakan untuk formatif maupun sumatif, (c) yang diukur keterampilan dan kinerja, bukan mengingat fakta, (d) berkesinambungan, (e) terintegrasi, dan (f)  dapat digunakan sebagai umpan balik. Hal-hal yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai  prestasi siswa antara lain: pekerjaan rumah (PR), kuis, karya siswa, presentasi atau penampilan, portfolio, dan hasil test tertulis.  

D.  Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Konvensional

Menurut Nurhadi (2003) ada beberapa perbedaan antara pendekatan kontekstual dengan pendeketan konvensional yang dapat dilihat pada tabel 1  berikut.

Tabel  1    Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Konvensional

No

Pendekatan Kontekstual

 

Pendekatan Konvensional

1 Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran  1 Siswa adalah penerima informasi secara pasif
2 Siswa belajar dari teman melalui kerja                          kelompok, diskusi, dan saling mengoreksi  2 Siswa belajar secara individual 
3 Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan/atau masalah yang disimulasikan  3 Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
4 Prilaku dibangun atas kesadaran sendiri             4 Prilaku dibangun atas kebiasaan
5 Keterampilan dikembangkan atas dasarPemahaman

                                                               

5 Keterampilan dikembangkan  atas dasar  latihan
6 Hadiah untuk prilaku baik adalah kepuasan 6 Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor 
7 Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan  7 Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman
8 Bahasa diajarkan denhan pendekatan               komutatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata                          8 Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatihkan (drill)
9 Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa  9 Rumus itu ada di luar diri siswa,  yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan dan dilatihkan                                                                                          
10 Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan yang lainnya, sesuai dengan skemata siswa (ongoing process of development)    10 Rumus adalah kebenaran absolut (sama untuk semua orang). Hanya ada dua kemungkinan, yaitu  pemahaman rumus yang salah atau pemahaman rumus yang benar 
11 Siswa menggunakan kemampuan berpikir        kritis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke dalam proses pembelajaran. 11 Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan,  mencatat, menghafal), tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran. 
12
  1. Manusia menciptakan atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya

 

12 Pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep atau hukum yang berada di luar diri manusia 

 

13 Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikontruksi) oleh manusia sendiri, sementara manusia selalu mengalami peristiwa baru, makaPengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentatif & incomplete)

 

13 Kebenaran bersifat absolut danpengetahuan bersifat final
14 Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing  14 Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran 
15 Penghargaan terhadap pengalaman siswa             sangat diutamakan                                                     15 Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa.
16 Hasil belajar diukur dengan berbagai cara: proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dan lain-lain  16 Hasil belajar hanya diukur dengan tes
17 Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks, dan setting                                                         17 Pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.
18 Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek    18 Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek                                                                                    
19 Perilaku baik berdasar motivasi intrinsik 19 Perilaku baik berdasar motivasi                                                                                   ekstrinsik 
20 Seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat 20 Seseorang berperilaku baik karena terbiasa melakukan begitu. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenangkan. 

3 Responses to “Pendidikan”

  1. Yeni PGMI said

    Pak sakir saya yeni PGMI UIN Malang, saya mohon bimbingan pak sakir jika saya ada masalah terkait matematika, terimakasih.

  2. abdul jalil said

    assalamualaikum… pak saya mau tanya dan minta saran kalau pembelajaran yang menekankan kepada kognetivnya seperti apa penelitiannya?sebelumnya terimakasih pak bantuannya

    • abdussakir said

      Wa’alaikum salam. Sebenarnya saya tidak begitu paham yang dimaksud dalam pertanyaan.
      Semua metode pembelajaran yang tidak lagi mengikuti aliran behavioris sudah menekankan pada kognitif siswa. Meskipun dalam pelaksanaannya di Indonesia, kadang kembali ke behavioris.
      Penelitian tentang kognitif biasanya meneliti proses berpikir siswa dalam memahami suatu materi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: